Tampilkan postingan dengan label Hypnolearning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hypnolearning. Tampilkan semua postingan

17 Des 2010

Kenapa Sekolah butuh Hypnolearning ?

Sebanyak 727 siswa SMA/-SMK di Kota Bekasi dinyatakan tidak lulus UN tahun 2010, stres diduga menjadi penyebabnya. Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Bekasi Dedi Djunaedi, mengatakan sebagian siswa malah stres menyimak materi UN. Hal itu menyebabkan mereka kurang percaya diri ketika menjawab soal UN (Pikiran Rakyat 27/4-2010)

Dari fakta tersebut diatas, hal ini terjadi karena selama ini hampir sebagian besar sekolah hanya memfokuskan persiapan UN pada aspek hardskill (kompetensi akademik) siswa saja, dan mengesampingkan aspek soft skill (Percaya diri, jujur, kesiapan mental, disiplin). Bercermin pada hasil UN tahun-tahun sebelumnya, seharusnya pihak sekolah kini lebih memprioritaskan aspek softskill siswanya, salah satu adalah siswa harus mengikuti workshop Hypnolearning.
Workshop ini dikemas dengan teknik Hypnolearning, yaitu teknik belajar dengan memberdayakan alam bawah sadar, sehingga siswa dapat lebih fokus, menyerap pelajaran dengan mudah dan memiliki kepercayaan yang lebih tinggi untuk menghadapi Ujian Nasional. Workshop ini dapat diintegrasikan dengan program Pendalaman Materi (PM) sekolah, mengenai waktu pelaksanaan, sebaiknya diselenggarakan sebelum atau disisipkan dalam jadwal PM.
Keunggulan workshop Hypnolearning dibandingkan dengan workshop lainnya tentang motivasi adalah:
1.    Siswa diajarkan untuk mengaktivasi kekuatan dalam diri dan dunia luar diri dengan self image reprogramming sehingga akan lebih siap dari segi mental menghadapi UN
2.    Siswa akan diajarkan bagaimana memotivasi dirinya  sendiri untuk belajar dengan teknik anchoring dan self hypnosis, sehingga  mereka akan lebih bersemangat, lebih tenang dan tanpa stress dalam mengerjakan soal UN
3.    Siswa akan mengetahui rahasia modalitas mereka, sehingga proses belajar mereka akan lebih efektif
4.    Siswa akan diajarkan bagaimana memberdayakan alam bawah sadar mereka, sehingga menjadi lebih relaks, fokus dan dapat menyerap setiap informasi yang disampaikan oleh guru  dengan mudah
5.    Menanamkan sugesti positif dan menerapkan positive statement dalam kehidupan siswa sehari-hari

House of Modern Hypnosis menawarkan kerjasama penyelenggaraan workshop Hypnolearning dengan pihak sekolah atau institusi



Trainer                    :  Ridwan Sank, S.Sos, M.Ph, CHt, CI
Sistem Pelatihan   : 3 Jam pelatihan di kelas membahas teori dan praktek (simulasi)
Tempat Pelatihan  : Di sekolah atau di tempat yang telah disepakati oleh kedua belah pihak
Sertifikat                  : Sertifikat tanda telah mengikuti pelatihan Hypnolearning
Investasi                  : 20-80 orang - @Rp. 100.000
                                     81-200 orang - @RP.  50.000
                                    

Kami yakin pihak sekolah menginginkan siswa/i nya lulus UN 100% dengan hasil memuaskan dari hasil usaha yang jujur, oleh karena itu persiapkanlah softskill mereka dari sekarang. 
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi kami di 021-85549957 (esia) atau kirim email ke hipnosiskilat@gmail.com
















14 Des 2010

Hati-hati Anak Anda Stres !


Mungkin sebagian dari anda beranggapan bila stres itu hanya akan terjadi pada orang dewasa saja. Namun cukup mengagetkan, dari  klien yang selama ini saya tangani dengan Hypnotherapy,  hampir 50% nya  adalah pelajar, khususnya  saat mereka mau menjelang Ujian Nasional. Lalu faktor apa yang menyebabkan mereka stres, ternyata macam-macam, mulai dari padatnya jadwal di sekolah dan kursus, ketidak mampuan mengikuti pelajaran sekolah atau  Ujian nasional, ataupun karena masalah keluarga.
Gejala Stres
Seorang anak yang stres dapat diidentifikasi dengan memperhatikan tingkah lakunya. Reaksi-reaksi psikosomatik, termasuk problem pencernaan, sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, dan masalah sewaktu buang air, mungkin merupakan tanda-tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tanda lainnya seperti sering menangis, senang menyendiri, rewel, tidak mau berangkat ke sekolah atau suatu tempat, membuat kenakalan di sekolah atau di lingkungan tempat bermainnya, penurunan nilai sekolah. Bahkan stres juga dapat menyebabkan penyakit fisik pada anak, misalnya merasa pusing, mual, diare, kelumpuhan akibat depresi, atau penyakit lainnya.
Apabila seorang anak mengalami sakit dalam waktu lama dan setelah dikonsultasikan ke dokter tidak ditemukan penyebab pastinya, maka tidak ada salahnya bila Anda meminta bantuan seorang Hypnotherapist, karena penyakit tersebut bisa saja bukan disebabkan virus, bakteri atau kerusakan pada tubuh melainkan disebabkan pikiran anak yang sedang stres, jadi hypnotherapy adalah solusi terbaik buat anak
Hypnotherapy
Hypnotherapy telah terbukti memiliki beragam kegunaan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang berkenaan dengan emosi dan perilaku. Bahkan beberapa kasus medis serius seperti kanker dan jantung, hypnotherapy mempercepat kondisi seorang penderita. Hal ini sangat dimungkinkan kaerna hypnotherapy diarahkan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memprogram ulang penyikapan individu terhadap penyakit yang dideritanya melalui pemberdayaan alam bawah sadar seseorang, sehingga teknik ini terbukti lebih alami, bebas dari obat-obatan, zat kimia dan jauh dari hal berbau mistik dan magic.
Untuk konsultasi atau membuat janji Hypnoteraphy, silahkan menghubungi 021-85549957 / 081384992895

29 Nov 2010

Tips Mengatasi Anak Malas Belajar

Beberap hari lalu saya sempat berdiskusi dengan teman sekos saya, mulanya beliau bercerita tentang adik laki-lakinya yang malas untuk belajar padahal sebentar lagi dia akan menghadapi ujian akhir kelulusan SD. Sebuat saja namanya “Ardi”, Ardi ini termasuk anak yang belum bisa belajar dengan baik atau masih malas-malasan, kalaupun dia belajar itu hanya untuk menghindari omelan kakak dan ibunyan yang selalu menyuruhnya untuk belajar, dan bisa ditebak selama dia di ruang belajar yang dilakukan pun hanya pura-pura belajar atau belajar asal-asalan, sekolah pun hanya sekedar sebagai rutinitas seharian yang hanya berlalu begitu saja, sekedar menuruti perintah orang tua.

Apa yang terjadi pada Ardi sebenarnya juga banyak dialami anak-anak usia sekolah di masyarakat kita. Tak terhitung lagi berapa banyak orang tua yang mengeluh dan kecewa dengan nilai anaknya yang jeblok (jelek) karena anaknya malas belajar, dan sebaliknya tidak jarang juga kita menemukan anak yang ngambek atau menagis gara-gara selalu disuruh belajar. Ada orang tau yang memarahi anaknya, mengancam si anak untuk tidak akan membelikan ini dan itu kalau si anak tidak belajar, membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain, atau bahkan ada orang tua yang mengunakan cara kekerasan (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Jelas semua ini akan sangat berpengaruh pada fisik maupun psikis siswa.
Lalu sebenarnya bagaimanakah cara untuk mengatasi anak yang malas belajar? Masih perlukan kita dengarkan keluhan-keluahn orang tua tentang anaknya yang malas belajar? Haruskah anak itu ngambek atau menagis gara-gara dimarahin orang tuanya dan disuruh-suruh untuk belajar?
Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada baiknya kalau terlebih dahulu kita mencari penyebab dari prikalu malas belajar, kemudian baru mencari solusi guna mengatasinya. Betul Bu/Pak....? :D

Malas belajar pada anak secara psikologis merupakan wujud dari melemahnya kondisi mental, intelektual, fisik, dan psikis anak. Malas belajar timbul dari beberapa faktor, untuk lebih mudahnya terbagi menjadi dua faktor besar, yaitu: 1) faktor intrinsik ( dari dalam diri anak), dan 2) Faktor ekstrinsik (faktor dari luar anak).

1. Dari Dalam Diri Anak (Intrinsik)
Rasa malas untuk belajar yang timbul dari dalam diri anak dapat disebabkan karena kurang atau tidak adanya motivasi diri. Motivasi ini kemungkinan belum tumbuh dikarenakan anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya. Selain itu kelelahan dalam beraktivitas dapat berakibat menurunnya kekuatan fisik dan melemahnya kondisi psikis. Sebagai contoh, terlalu lama bermain, terlalu banyak mengikuti les ini dan les itu, terlalu banyak mengikuti ekstrakulikuler ini dan itu, atau membantu pekerjaan orangtua di rumah, merupakan faktor penyebab menurunnya kekuatan fisik pada anak. Contoh lainnya, terlalu lama menangis, marah-marah (ngambek) juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak.

2. Dari Luar Anak (Ekstrinsik)
Faktor dari luar anak yang tidak kalah besar pengaruhnya terhadap kondisi anak untuk menjadi malas belajar. Hal ini terjadi karena:

a. Sikap Orang Tua
Sikap orang tua yang tidak memberikan perhatian dalam belajar atau sebaliknya terlalu berlebihan perhatiannya, bisa menyebabkan anak malas belajar. Tidak cukup di situ, banyak orang tua di masyarakat kita yang menuntut anak untuk belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan mengajarkan kepada anak akan kesadaran dan tanggung jawab anak untuk belajar selaku pelajar. Akibat dari tuntutan tersebut tidak sedikit anak yang stress dan sering marah-marah (ngambek) sehingga nilai yang berhasil ia peroleh kurang memuaskan. Parahnya lagi, tidak jarang orang tua yang marah-marah dan mencela anaknya bilamana anak mendapat nilai yang kuang memuaskan. Menurut para pakar psikologi, sebenarnya anak usia Sekolah Dasar janga terlalu diorentasikan pada nilai (hasil belajar), tetapi bagaimana membiasakan diri untuk belajar, berlatih tanggung jawab, dan berlatih dalam suatu aturan.

b. Sikap Guru
Guru selaku tokoh teladan atau figur yang sering berinteraksi dengan anak dan dibanggakan oleh mereka, tapi tidak jarang sikap guru di sekolah juga menjadi objek keluhan siswanya. Ada banyak macam penyebabnya, mulai dari ketidaksiapan guru dalam mengajar, tidak menguasai bidang pelajaran yang akan diajarkan, atau karena terlalu banyak memberikan tugas-tugas dan pekerjaan rumah. Selain itu, sikap sering terlambat masuk kelas di saat mengajar, bercanda dengan siswa-siswa tertentu saja atau membawa masalah rumah tangga ke sekolah, membuat suasana belajar semakin tidak nyaman, tegang dan menakutkan bagi siswa tertentu.

c. Sikap Teman
Ketikan seorang anak berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah, tentunya secara langsung anak bisa memperhatikan satu sama lainnya, sikap, perlengkapan sekolah, pakaian dan asesoris-asesoris lainnya. Tapi sayangnya tidak semua teman di sekolah memiliki sikap atau perilaku yang baik dengan teman-teman lainnya. Seorang teman yang berlebihan dalam perlengkapan busana sekolah atau perlengkapan belajar, seperti sepatu yang bermerk yang tidak terjangkau oleh teman-teman lainnya, termasuk tas sekolah dan alat tulis atau sepeda dan mainan lainnya, secara tidak langsung dapat membuat iri teman-teman yang kurang mampu. Pada akhirnya ada anak yang menuntut kepada orang tuanya untuk minta dibelikan perlengkapan sekolah yang serupa dengan temannya. Bilamana tidak dituruti maka dengan cara malas belajarlah sebagai upaya untuk dikabulkan permohonannya.

d. Suasana Belajar di Rumah
Bukan suatu jaminan rumah mewah dan megah membuat anak menjadi rajin belajar, tidak pula rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas belajar. Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar yang baik adalah rumah yang selalu penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas-fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games), seperti Game Boy, Game Watch maupun Play Stations. Kondisi seperti ini berpotensi besar untuk tidak terciptanya suasana belajar yang baik.

e. Sarana Belajar
Sarana belajar merupakan media mutlak yang dapat mendukung minat belajar, kekurangan ataupun ketiadaan sarana untuk belajar secara langsung telah menciptakan kondisi anak untuk malas belajar. Kendala belajar biasanya muncul karena tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku-buku penunjang (pustaka mini), dan penerangan yang bagus. Selain itu, tidak tersediannya buku-buku pelajaran, buku tulis, dan alat-alat tulis lainnya, merupakan bagian lain yang cenderung menjadi hambatan otomatis anak akan kehilangan minat belajar yang optimal.

Enam langkan untuk mengatasi mals belajar pada anak dan membantu orangtua dalam membimbing dan mendampingi anak yang bermasalah dalam belajar antara lain:

1. Mencari Informasi
Orangtua sebaiknya bertanya langsung kepada anak guna memperoleh informasi yang tepat mengenai dirinya. Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.

2. Membuat Kesepakatan bersama antara orang tua dan anak.
Kesepakatan dibuat untuk menciptakan keadaan dan tanggung jawab serta memotivasi anak dalam belajar bukan memaksakan kehendak orang tua. Kesepakatan dibuat mulai dari bangun tidur hingga waktu hendak tidur, baik dalam hal rutinitas jam belajar, lama waktu belajar, jam belajar bilamana ada PR atau tidak, jam belajar di waktu libur sekolah, bagaimana bila hasil belajar baik atau buruk, hadiah atau sanksi apa yang harus diterima dan sebagainya. Kalaupun ada sanksi yang harus dibuat atau disepakati, biarlah anak yang menentukannya sebagai bukti tanggungjawabnya terhadap sesuatu yang akan disepakati bersama.

3. Menciptakan Disiplin.
Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menciptakan kedisiplinan kepada anak jika tidak dimulai dari orang tua. Orang tua yang sudah terbiasa menampilkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari akan dengan mudah diikuti oleh anaknya. Orang tua dapat menciptakan disiplin dalam belajar yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Latihan kedisiplinan bisa dimulai dari menyiapkan peralatan belajar, buku-buku pelajaran, mengingatkan tugas-tugas sekolah, menanyakan bahan pelajaran yang telah dipelajari, ataupun menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam suatu pelajaran tertentu, terlepas dari ada atau tidaknya tugas sekolah.

4. Menegakkan Kedisiplinan.
Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Untuk mengalihkannya gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak. Bila dapat melakukan aktivitas bersama di dalam satu ruangan saat anak belajar, orang tua dapat sambil membaca koran, majalah, atau aktivitas lain yang tidak mengganggu anak dalam ruang tersebut. Dengan demikian menegakkan disiplin pada anak tidak selalu dengan suruhan atau bentakan sementara orang tua melaksanakan aktifitas lain seperti menonton televisi atau sibuk di dapur.

5. Ketegasan Sikap
Ketegasan sikap dilakukan dengan cara orang tua tidak lagi memberikan toleransi kepada anak atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya secara berulang-ulang. Ketegasan sikap ini dikenakan saat anak mulai benar-benar menolak dan membantah dengan alasan yang dibuat-buat. Bahkan dengan sengaja anak berlaku ’tidak jujur’ melakukan aktivitas-aktivitas lain secara sengaja sampai melewati jam belajar. Ketegasan sikap yang diperlukan adalah dengan memberikan sanksi yang telah disepakati dan siap menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukannya.

6. Menciptakan Suasana Belajar
Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman merupakan tanggung jawab orangtua. Setidaknya orang tua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.

Ternyata malas belajar yang dialami oleh anak banyak disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu sebelum anak terlanjur mendapat nilai yang tidak memuaskan dan membuat malu orangtua, hendaknya orang tua segera menyelidiki dan memperhatikan minat belajar anak. Selain itu, menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang. Jika enam langkah ini dapat diterapkan pada anak, maka sudah seharusnya tidak adalagi keluhan dari orang tua tentang anaknya yang malas belajar atau anak yang ngambek karena selalu dimarahi orang tuanya.

Sumber Bacaan
http://anaprivat.blogspot.com/
www.keluargabahagia.com
http://id.answers.yahoo.com/

23 Nov 2010

Ketahui Gaya Belajar Anak Anda

Baca dengan teliti pernyataan dibawah ini, Contrang (√) ya apabila pernyataan tersebut sesuai dengan Anda

Gaya Belajar Visual
1 Jika mengerjakan sesuatu, saya selalu membaca instruksinya terlebih dahulu.
2 Saya lebih suka membaca daripada mendengarkan kuliah/penjelasan.
3 Saya selalu menunjukkan arah utara atau selatan dimana pun saya berada.
4 Saya suka menulis surat, jurnal atau buku harian.
5 Ketika mendengar orang lain berbicara, saya biasanya membuat gambar dari apa yang mereka katakan dalam pikiran saya.
6 Saat melihat obyek dalam bentuk gambar, saya dapat dengan mudah mengenali obyek yang sama walaupun posisi obyek itu diputar/diubah.
7 Saat mengingat suatu pengalaman, “Saya seringkali melihat pengalaman itu dalam bentuk gambar di dlm pikiran saya”.
8 Saya sering mencoret-coret kertas saat berbicara di telepon atau dalam suatu pertemuan/rapat.
9 Saya lebih suka membacakan cerita daripada mendengarkan.
10 Saya dapat dengan cepat melakukan penjumlahan dan perkalian dalam pikiran saya.
11 Saya suka mengeja dan Saya pintar mengeja kata-kata.
12 Saya suka mencatat perintah/instruksi yang disampaikan kepada saya.

Gaya Belajar Auditori
1 Saya lebih suka mendengarkan informasi yang ada di kaset daripada membaca buku.
2 Saat seorang diri, saya biasanya memainkan musik/lagu atau bernyanyi.
3 Saat berbicara, saya suka mengatakan, “ Saya mendengar Anda, itu terdengar bagus, itu bunyinya bagus.”
4 Saya tahu hampir semua kata dari lagu yang saya dengar.
5 Mudah sekali bagi saya untuk mengobrol dalam waktu yang lama dengan kawan saya saat berbicara di telepon.
6 Tanpa musik, hidup amat membosankan.
7 Saya sangat senang berkumpul dan biasanya dapat dengan mudah berbicara dengan siapa saja.
8 Saat mengingat suatu pengalaman, saya seringkali mendengar suara dan berbicara pada diri saya mengenai pengalaman itu.
9 Saya lebih suka musik daripada seni lukis.
10 Saya lebih suka berbicara dari pada menulis.
11 Saya akan sangat terganggu apabila ada orang yang berbicara pada saat sedang nonton TV.
12 Saya dapat mengingat dengan mudah apa yang orang katakan.

Gaya Belajar Kinestetik
1 Saya lebih suka berolah raga daripada membaca buku.
2 Ruangan, meja, mobil atau rumah saya biasanya berantakan/tidak teratur.
3 Saya suka merancang, mengerjakan dan membuat sesuatu dengan kedua tangan saya .
4
Saya suka olah raga dan rasanya saya adalah olahragawan yang baik.

5 Saya biasanya mengatakan, “Saya rasa, saya perlu menemukan bijakan atas hal ini, atau saya ingin bisa menangani hal ini.
6 Saat mengingat suatu pengalaman,saya sering kali ingat bagaimana perasaan saya terhadap pengalaman itu.
7 Saya lebih suka melakukan contoh peragaan daripada membuat laporan tertulis atas suatu kejadian.
8 Saya biasanya berbicara dengan perlahan.
9 Tulisan tangan saya biasanya tidak rapi.
10 Saya biasanya menggunakan jari saya untuk menunjuk kalimat yang saya baca.
11 Saya paling mudah belajar sambil mempraktekan/melakukan.
12 Sangat sulit bagi saya untuk duduk diam dalam waktu yang lama.